Friday, May 1, 2015

Anggun : Dapat Surat Dari Istri Mantan Pecandu Narkoba

Anggun Cipta Sasmi - Berita tentang surat terbuka penyanyi cantik asal Indonesia yang sekarang sudah pindah kewarganegaraan kepada Bapak Jokowi tentang eksekusi mati terhadap gembong narkoba asal negara Perancis masih banyak menuai cibiran dari beberapa pihak. Pasalnya Anggun yang jelas punya darah indonesia yang meskipun sekarang sudah pindah kewarganegaraan menentang keras putusan eksekusi mati tersebut.

Setelah surat terbuka dari Anggun kepada Presiden Indonesia beberapa waktu lalu mendapat tanggapan dari Yana Nurliana, sekarang ada lagi yang menulis surat terbuka kepada Anggun. Ini datang dari seorang ibu rumah tangga yang mempunyai suami bekas pecandu narkoba. Dia adalah pemilik akun facebook Ephie Craze yang ditulis pada 27 April lalu.

Dan berikut ini isi dari surat terbuka tersebut

Surat Terbuka Kepada Anggun C Sasmi Dari Istri Mantan Pecandu Narkoba

Surat terbuka untuk mbak Anggun C Sasmi

Anggun : Dapat Surat Dari Istri Mantan Pecandu NarkobaSaya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa mbak. Yang hanya menyimak berita di layar kaca dan layar hp saya. Sampai hari ini anak saya mengomentari keikutsertaan mbak mendemo pemerintah indonesia yang memutuskan hukuman mati warga negara Perancis yang menjadi pengedar narkoba di indonesia. Anak saya berkata, "orang salah kok dibela?", ini yang membuat saya pilu. Oleh sebab itu, saya menulis surat terbuka ini untuk mbak renungkan. Apakah mbak tahu apa saja akibat buruk narkoba?. Saya rasa sebagai wanita cerdas yang sudah melanglang buana pasti mbak tahu pasti akan hal itu. Tapi apakah mbak tahu akibatnya bagi orang-orang terdekat yang mencintai orang-orang yang terlibat dengan narkoba?. Saya rasa mbak tak memahami hal itu.
Saya adalah mantan istri dari pecandu narkoba. Saya adalah ibu dari 2 orang anak. Apakah
mbak tahu rasanya saat menangis memohon pada suami mbak untuk berhenti mengkonsumsi narkoba?. Saya ketakutan mbak!. Anak saya masih kecil waktu itu, 5,5 tahun dan bayi 4 bulan. Apakah mbak tahu rasanya saat saya dicemooh orang saat suami yang seorang aparat negara dijebloskan ke sel tahanan karena kasus narkoba dan kehilangan pekerjaan selama 15 tahun dijalaninya?. Saya rasa mbak tidak tahu. Apakah mbak tahu rasanya setiap hari bezuk ke penjara atau menghadiri persidangan yang menguras emosi dengan menggandeng balita dan menggendong bayi ditengah tatapan iba dan bahkan mengejek dari orang-orang sekitar?. Saya rasa mbak tidak tahu itu. Apa mbak pernah menghitung berapa biaya yang saya habiskan setiap hari untuk membeli 4 pak rokok untuk para petugas dan napi jaga saat membezuk suami?.Apa mbak bisa menghitung berapa biaya mengirim makanan dan uang transportasi ke penjara setiap hari bagi masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah seperti kami?. Apa mbak tahu sedihnya saya saat bayi saya terkena tifus di RS sementara suami saya di penjara?. Apa mbak tahu berapa biaya RS yang saya keluarkan tiap kali suami OD?. Apa mbak tahu rasanya dijauhi sanak famili karena saya mempertahankan suami saya?. Apa mbak tahu perasaan anak-anak saya saat mereka melihat suami menghajar saya di depan mereka?. Apa mbak tahu rasanya saat suami memandang istrinya bagai musuh dan selalu mengancam membunuh?. Apa mbak tahu rasanya kehilangan rumah, kendaraan, properti yang saya tabung dari kerja keras bahkan sejak sebelum saya menikah?. Apa mbak tahu rasanya saat suami berpesta pora narkoba sana sini tanpa peduli tak ada makanan untuk anak istrinya di rumah?. Apakah mbak tahu rasanya dicurigai dan dituduh setiap hari oleh suami yang paranoid? Apakah mbak tahu rasanya diselingkuhi berkali-kali hanya karena mengejar kepuasan memakai narkoba?. Apa mbak tahu rasanya saat anak menggigil ketakutan dalam pelukan saya? Apa mbak tahu rasanya mendengar anak saya bercerita dengan detail bagaimana suami saya menyiapkan peralatan untuk memakai narkoba? Itu mimpi buruk di kehidupan saya mbak! Itu hanya contoh-contoh kecil mbak. Itu bukan skenario sinetron di layar kaca. Bukan juga cuma 1 atau 2 hari saja, tapi saya mencoba bersabar dalam 7th!. Bahkan dengan keadaan saya seperti itu saya masih bersyukur karena masih bisa mempertahankan kewarasan saya dan melindungi anak-anak saya. Saya masih bersyukur karena bisa menutup mata, menulikan telinga, dan membungkam mulut demi anak-anak saya. Saya bersyukur masih bisa mengusap airmata dan mulai bekerja lagi. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk merehabilitasi mental dan moral saya dan anak-anak saya.
Janganlah mbak berpikir saya adalah orang yang kolot dan tak tahu perkembangan dunia. Saya tahu itu. Di Bali sudah terlalu sering saya melihat klien-klien saya berpesta apapun, di sebuah pulai di Indonesia dan di Amsterdam saya melihat muda mudi menghisap ganja di tempat-tempat umum. Saya tahu itu. Tapi hal itu bukan menjadi hal yang membuat saya akan menerima dan memakluminya. Saya muak melihat Freddy si gembong narkoba berbicara dengan santainya dan menjelaskan bahwa dia masih menjalankan bisnis narkoba dari balik tembok penjara, saya muak mendengar bahwa para sipir terlibat dalam hal ini, saya muak membaca surat mbak kepada Presiden Indonesia untuk menentang hukuman mati kepada warga negara Perancis itu, Serge Atlaoui dan bahkan mbak menyebut dia tulus dan jujur. Apa maksud mbak sebenarnya?. Dan sekarang, saya lebih muak lagi melihat mbak berdemo bersama mereka. Bahkan menyebut kami kuno. Tapi bagi saya, modernisasi bukan seperti yang mbak pikir.
Mbak memang hebat, punya prestasi luar biasa sebagai artis internasional. Dulu, saya sangat bangga memandang mbak di layar televisi, seorang wanita dari Indonesia yang bisa ke luar negeri, bisa berhasan Inggris dan Perancis dengan fasih, dan menghasilkan album lagu dengan suara merdu mbak. Saat mbak memutuskan menjadi warga negara Perancis, saya mencoba mengerti. Tapi yang saya tidak mengerti, untuk apa mbak menyurati presiden kami dengan sepenggal bahasa jawa dengan permintaan seperti itu?
Sekali saja pemerintah kami membatalkan hukuman mati itu, tak akan ada lagi negara lain yang menghormati hukum di negara kami. Jangan masuk dengan narkoba ke negara kami kalau masih takut mati.
Sudahlah mbak, mbak sudah warga negara asing sekarang, sudah kehilangan nasionalismenya dengan menentang UU negara kami. Silahkan mbak berkoar-koar di negara mbak. Biarkan kami melindungi negara kami. Melindungi anak cucu kami. Mungkin saat mbak mempunyai anak nanti, barulah mbak bisa menyadari ketakutan kami. Bagi saya, hukuman mati untuk dia akan menyelamatkan hidup banyak orang. Apabila mbak masih punya rasa cinta kepada Indonesia, kenapa mbak tidak kirimkan saja surat protes kepada negara yang menjatuhi hukuman mati kepada para TKI dan TKW Indonesia? Bukankah mereka justru yang lebih membutuhkan pembelaan?. Salam dari Indonesia, yang dulunya negara mbak.
Matur sewu sembah nuwun paringanipun kawigatosan dumateng kawulo.

Nah, bagaimana pendapat anda tentang hal ini ? Kalau saya pribadi sudah barang tentu menentang apa yang jadi keinginan Anggun C Sasmi, karena saya dulu juga pernah menyentuh yang namanya narkoba dan sangat paham sekali apa akibatnya.
Previous Post
Next Post

0 komentar:

- Pengunjung yang hebat pasti meninggalkan komentar
- Komentar IKLAN / LINK AKTIV tidak akan di Publish
- Komentar mengandung unsur SARA tidak akan di Publish
- Komentarlah dengan bijak sesuai topik artikel
- Komentar anda menjadi undangan bagi saya