Tuesday, May 26, 2015

Indahnya Puncak Gunung Agung Bali

Gunung Agung Bali - Terjadi sekitar 16 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1999. Waktu itu saya baru masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri di Bali. Sejak SMA saya tidak pernah ikut yang namanya Pramuka atau sejenisnya yang berhubungan dengan pendakian atau hacking. Mungkin gara-gara samping kanan kiri kamar kost saya dulu anaknya suka naik gunung, jadi kayaknya saya ketularan mereka. He-he-he...

Saking lamanya saya tidak bisa mengingat dengan jelas tanggal dan bulannya pada saat pendakian. Yang jelas waktu itu saya bersama dengan 5 orang teman mulai berangkat dari Bukit Jimbaran menuju ke Pura Besakih. Karena menurut yang sudah pernah naik, jalur dari Pura Besakih lebih mudah dari pada jalur yang lain. Saya berangkat bersama teman-teman siang hari agar sampai di Pura Besakih hari belum gelap. Dan sangat disarankan kalau naik ke Gunung Agung berangkatnya sore hari. Agar tidak terlalu haus dan menghabiskan bekal air. Karena di atas tidak ada sumber air dan tempat air terakhir adalah Pura Besakih.

Pendakian Gunung Agung Bali

Setiba di Pura Besakih kami langsung menuju ke Pos Penjagaan untuk meninggalkan KTP. Sebelum kami memulai pendakian, sudah ada 2 orang pendaki dari Yogyakarta yang terpaksa kembali gara-gara kakinya terluka. Karena mereka hanya memakai sandal gunung bukan sepatu. Dan itu menjadi pelajaran buat saya, untuk naik ke Gunung Agung tidak bisa hanya memakai sandal gunung. 

Setelah istirahat beberapa saat, kami memulai pendakian dengan tidak lupa mengambil air dahulu di areal Pura Besakih. Dengan berbekal masing-masing satu lampu senter akhirnya kami menembus kegelapan lereng Gunung Agung. Ditengah perjalanan, salah satu teman kami mengalami dehidrasi. Dan kamipun memutuskan untuk istirahat dengan membuka tenda karena cuaca waktu itu gerimis.

Kurang lebih 2 jam kami istirahat, lalu kami melanjutkan pendakian karena tidak ingin melewatkan sunrise dari puncak gunung. Kurang lebih jam 01.00 WITA kami tiba di pos terakhir atau biasa disebut SHELTER. Kamipun membuka tenda dan mulai membuat makanan untuk menghangatkan badan sekalian mengisi perut. 

Kamipun beristirahat dengan memasang alarm jam 03.30 WITA, karena dari shelter menuju puncak utama membutuhkan waktu kurang lebih 1 hingga 2 jam. Belum sampai alarm berbunyi, kami terbangun gara-gara hujan badai yang sangat lebat. Pendakian menuju puncak akhirnya ditangguhkan menunggu hujan reda dan kamipun harus rela tidak bisa menikmati sunrise dari Puncak Gunung Agung.

Kira-kira 3 jam hujan baru reda dan kamipun segera membereskan tenda dan segera membuat sarapan pagi yang ditunggui oleh beberapa monyet. He-he-he....
Setelah semua selesai, kami bergegas menuju puncak dengan membawa serta tas carrier. Untuk menuju ke puncak, kami harus melewati medan yang agak menanjak disertai bebatuan kira-kira tingginya 2 sampai 3 meter. Dan sampailah kami di padang batu (istilah saya sendiri), karena di areal ini terhampar luas batu-batu yang besarnya beraneka ragam.

Namun sebelum melanjutkan pendakian, kami memutuskan untuk meninggalkan tas carrier di areal bebatuan tadi. Karena pada saat itu angin sangat tidak bersahabat dan berbahaya buat kami jika nekat membawa tas untuk sampai ke puncak. Setelah melewati bebatuan tersebut, jalur yang harus kami lewati adalah mirip jalan setapak yang kanan kirinya terdapat lereng curam. Jika angin tidak bersahabat, pada jalur ini kita harus ekstra hati-hati.

Untuk mempercepat pendakian, kami membuat trik untuk berdamai dengan angin yang sangat kencang. Jika angin bertiup kencang, kami jongkok agar lebih seimbang. Dan disaat angin bertiup normal, kami segera berdiri dan lari sekencang-kencangnya sampai dirasa akan ada angin kencang lagi kami segera berhenti dan jongkok. Cara ini kami lakukan sampai tiba di puncak pertama, karena pada areal ini sudah agak datar.

Dan kamipun melanjutkan ke puncak kedua lalu ke puncak terakhir yaitu puncak dimana kita bisa melihat langsung kawah dari Gunung Agung. Selain itu kita bisa menikmati indahnya Gunung Rinjani dan Gunung Semeru dari kejauhan. Tapi sangat disayangkan, foto-foto di puncak Gunung Agung pada musnah entah kemana, hanya tersisa satu dibawah ini.
Indahnya Puncak Gunung Agung Bali
Foto di atas juga sudah saya edit, yang aslinya juga entah kemana. He-he-he. . .  Dari foto tersebut coba tebak saya yang mana ? Ha-ha-ha .....

Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak Gunung Agung, kami segera turun kembali ke Pos Penjagaan di Pura Besakih. Sampai di sana hari sudah gelap dan kamipun memutuskan untuk bermalam disitu, karena sudah tidak ada lagi angkutan menuju ke Denpasar maupun ke Bukit Jimbaran.

Keesokan harinya kami bergegas menuju ke terminal untuk naik angkot (angkodes/angkota) untuk kembali ke Denpasar. Di dalam angkot saya sempat melihat ke arah Gunung Agung, saya kemarin berada di puncak itu dan sekarang saya berada di dalam angkot.  Kira-kira jam 13.00 WITA kami tiba di Bukit Jimbaran. Meskipun kulit wajah pecah-pecah karena pengaruh perbedaan suhu, tapi saya merasa bangga bisa menjejakkan kaki di puncak tertinggi Pulau Bali yaitu GUNUNG AGUNG.

Wah. .. ... panjang juga ternyata tulisanku. Semoga anda tidak bosan membacanya sampai akhir. Pesan saya pribadi kepada para pendaki Gunung Agung :
  • Gunakan sepatu jika mau naik ke Gunung Agung 
  • Hematlah air
  • Bawa turun kembali sampah anda
  • Jangan merusak atau membuang potongan botol akua yang di gantung di pohon-pohon
Mungkin cukup sekian bagi-bagi informasi dan pengalaman saya tentang mendaki gunung agung. Semoga artikel di atas bermanfaat buat kita semua khususnya yang gemar dan hobi naik gunung. Salam panggilan dari gunung.
Previous Post
Next Post

0 komentar:

- Pengunjung yang hebat pasti meninggalkan komentar
- Komentar IKLAN / LINK AKTIV tidak akan di Publish
- Komentar mengandung unsur SARA tidak akan di Publish
- Komentarlah dengan bijak sesuai topik artikel
- Komentar anda menjadi undangan bagi saya