Monday, June 8, 2015

Pondok Bento Jimbaran Bali

Pondok Bento – Panas mentari tidak menghalangi niatku untuk menyelesaikan registrasi di salah satu universitas negeri di Bali. Dan memang cuaca di Bali terkenal panas. Kira-kira selepas dzuhur urusan registrasi semuanya telah saya jalani dan sukses. Senang sekali rasanya waktu itu bisa melanjutkan kuliah di Pulau Dewata. Karena kalau melihat mundur kebelakang pada saat smp atau sma, saya selalu mendapatkan nominasi pelajar yang tergolong nakal. Rekor yang pernah saya raih adalah dalam satu cawu (empat bulan) saya alpha kurang lebih selama tiga bulan. Benar-benar tragis. He-he-he

Kembali ke topik. Setelah istirahat sambil mendinginkan tenggorokan dengan sebotol minuman, rasa senang berubah menjadi galau (istilah jaman sekarang). Karena di Bali saya tidak punya sanak saudara yang bisa untuk menginap barang semalam atau dua malam. Tiba-tiba mata saya tertuju pada satu tempat yang meletakkan tulisan “Jasa Mencari Kos-Kosan”. Namun sebelum saya beranjak ke tempat itu, ada seorang pemuda menghampiri saya dan bertanya kepada saya masuk di fakultas apa. Setelah terjadi obrolan ringan, akhirnya pemuda itu menawarkan kos-kosan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari fakultas saya.

Singkat cerita, saya tiba di kos-kosan tersebut dengan diantar pemuda tadi. Tak berapa lama si pemilik kos-kosan datang menemui saya dan langsung menyuruh saya memilih kamar yang ada. Kurang lebih ada 15 kamar, 4 kamar mandi luar dan 2 warung makan di area itu. Lalu saya memutuskan untuk memilih kamar yang berhadapan dengan kebun seharga Rp. 800.000/tahun.

Pondok Bento Bukit Jimbaran BaliMalam pertama sedikit kaget dengan keadaan lingkungan kos-kosan ini. Karena tiba-tiba ada sapi yang keluyuran di area kebun pas di depan kamar. Dan ternyata memang begitu adanya di Bali, kebanyakan sapi tidak dimasukkan ke kandang. Setelah beberapa bulan berjalan, saya mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Di kos-kosan ini menerima semua genre baik wanita maupun laki-laki.

Ternyata pemuda yang membawa saya ke kos-kosan tersebut adalah salah satu penghuni kamar di area itu. Hampir setiap malam penghuni kos-kosan itu berkmpul ngopi bareng, cuap-cuap bareng dan lain-lain. Sampai pada akhirnya si pemuda itu bilang ke saya dengan nada bercanda “dulu aku bawa kamu kemari karena mukamu itu terlihat seperti anak nakal”. Saya dan anak-anak yang lain Cuma bisa ketawa, tapi dalam hati kesel juga ketahuan kalau dulu saya pernah dapat penghargaan nominasi anak nakal.

Yang lebih parah lagi waktu selesai kuliah saya nongkrong di warung yang punya kos. Lalu si memek (sebutan ibu) bilang ke saya “hei, dulu aku kira kamu itu pekerja bangunan yang mau cari kos-kosan”. Nah ini, tambah dalem penderitaannya. Masak dikira tukang bangunan. Memang saya akui, pada waktu datang pertama kali ke situ rambut saya panjang dan merah pula. Mungkin itu yang membuat memek bisa bilang seperti itu.

Rasanya terlalu panjang kalau dimuat dalam satu artikel corat-coret saya tentang Pondok Bento ini. Baiklah kalau begitu saya akhiri sampai disini dulu, untuk kelanjutannya tunggu pada artikel Pondok Bento Jimbaran Bali Bagian 2. Sampai jumpa
Previous Post
Next Post

0 komentar:

- Pengunjung yang hebat pasti meninggalkan komentar
- Komentar IKLAN / LINK AKTIV tidak akan di Publish
- Komentar mengandung unsur SARA tidak akan di Publish
- Komentarlah dengan bijak sesuai topik artikel
- Komentar anda menjadi undangan bagi saya